
Minahasa, PALAKAT.id – Indonesia Adventure Travel Trade Association (IATTA) Sulawesi Utara berkolaborasi dengan Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Manado (Unima) menggelar webinar bertajuk English For Tourism: Potensi Pariwisata dan Peluang Bisnis di Sulawesi Utara, Kamis (15/10/2026).
Webinar seri pertama yang digelar secara langsung melalui Zoom pada pukul 14.00 WITA tersebut bertujuan untuk memberikan wawasan dan jejaring kepada mahasiswa dan pelaku pariwisata tentang pentingnya penguasaan Bahasa Inggris dalam mengembangkan potensi wisata petualangan dan peluang bisnis di Sulawesi Utara.
Kegiatan ini menghadirkan tujuh narasumber yang kompeten di bidangnya, mulai dari akademisi, praktisi wisata petualangan, hingga pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Para narasumber tersebut adalah Ketua Umum IATTA Dr. Ir. Amalia Yunita, ST, MM yang juga CEO Arus Liar dan dosen Institut Pariwisata Trisakti, Pendiri IATTA Ir. Cahyo Alkantana yang merupakan instruktur selam dan gua serta CEO Goa Jomblang, dan Ketua IATTA Sulawesi Utara Bob Sumoked, S.Pd yang juga operator Piramida Carstensz dan Manajer 7 Summits.
Selanjutnya, penerbang paralayang perempuan pertama di Sulut yang juga CEO Kengkang dan Ketua Forum Komunikasi Paralayang (FKPA) Nanvie Jane Tagah, S.Pi, Kepala Bidang Informasi dan Hubungan Masyarakat Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bitung sekaligus Ketua Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) Kota Bitung Ferdy Pangalila, S.Pd.
Turut menjadi narasumber, instruktur outbound Sulawesi Utara sekaligus Ketua Komite Gunung Elbrus Stephant Langitan, S.Pd dan atlet papan dayung berdiri (stand-up paddle) yang juga pemilik UMKM Minahasa Christine Inkiriwang, S.S., M.M. Webinar ini dipandu oleh Sekretaris IATTA Sulut, Mauldy Maili, S.Pd sebagai moderator.
Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris FBS Unima, Prof. Nihta Liando, MA, PhD dalam sambutannya mengatakan, kolaborasi ini merupakan langkah strategis untuk menjembatani dunia akademik dengan industri pariwisata.
“Mahasiswa Pendidikan Bahasa Inggris tidak hanya belajar teori bahasa, tetapi harus mampu mengaplikasikannya di sektor yang nyata dan menjanjikan seperti pariwisata petualangan. Sulawesi Utara punya potensi luar biasa yang harus diceritakan ke dunia dengan Bahasa Inggris yang baik,” ujar Prof. Nihta.
Sementara Ketua IATTA Sulut Bob Sumoked menyampaikan bahwa Sulawesi Utara adalah surga bagi wisata petualangan yang belum banyak terekspos.
“Kami di IATTA melihat banyak pemandu lokal yang hebat secara teknis di lapangan, baik di gunung, sungai, maupun laut, tapi terkendala bahasa saat membawa tamu mancanegara. Melalui webinar ini, kami ingin mendorong mahasiswa untuk menjadi jembatan itu,” kata Bob.
Ketua Umum IATTA Dr. Ir. Amalia Yunita, ST, MM dalam materinya menegaskan, kekayaan alam kelas dunia di Sulawesi Utara membutuhkan kemampuan komunikasi kelas dunia untuk bisa menembus pasar pariwisata global.
“Kekayaan alam kelas dunia di Sulawesi Utara tidak akan menjadi apa-apa tanpa kemampuan komunikasi yang juga kelas dunia. Keindahan alam saja tidak cukup. Tanpa layanan yang berkualitas dan komunikasi Bahasa Inggris yang baik, itu belum menjadi produk pariwisata yang utuh,” tegas Amalia.
Menurutnya, Sulawesi Utara memiliki keunggulan konsep Satu Provinsi Banyak Pengalaman, mulai dari Bunaken untuk pariwisata kelautan dan menyelam, Selat Lembeh untuk fotografi bawah air, Tangkoko untuk interaksi satwa liar, hingga Lokon dan Minahasa untuk trekking alam dan wisata budaya.
“Alam yang menarik pengunjung, tetapi manusianyalah yang menciptakan pengalaman. Dan komunikasi adalah pembuka pintunya,” ujarnya.
Lebih lanjut Amalia menjelaskan, Bahasa Inggris menjadi kunci utama dalam rantai pariwisata.
“Bahasa Inggris adalah kunci kepercayaan. Bagaimana kita bisa meyakinkan turis asing soal standar keselamatan kalau kita tidak bisa menjelaskannya dengan bahasa mereka? Bahasa Inggris bukan hanya untuk memandu, tapi untuk menceritakan keautentikan pengalaman lokal kita agar bisa menjangkau pasar internasional,” jelasnya.
Ia menambahkan, kualitas layanan dinilai dari setiap titik interaksi wisatawan.
“Kualitas layanan itu dinilai dari setiap titik interaksi, dari saat wisatawan mencari destinasi di Google, saat mereka tiba, hingga saat mereka menulis ulasan setelah pulang. Di semua titik itu butuh Bahasa Inggris,” katanya.
Di akhir materinya, Amalia memaparkan peluang karir yang terbuka luas jika mahasiswa menguasai bahasa dan keterampilan pariwisata.
“Jika kalian menguasai Bahasa Inggris dan keterampilan pariwisata, peluang karirnya sangat luas. Kalian bisa jadi pemandu wisata petualangan, pemasar digital, perancang tur, bahkan pengusaha wisata berbasis komunitas,” ungkapnya.
“Untuk bisa bersaing secara global, tidak cukup hanya bisa Bahasa Inggris. Kita butuh kompetensi profesional, pemahaman budaya, dan komitmen pada keberlanjutan bumi serta kesejahteraan manusia,” pungkas Amalia.(pid)






